Kebiasaan bersyukur, satu momen setiap kali

· 2 menit baca · Juga dalam Deutsch, English

Beberapa momen terbaik dalam sehari begitu kecil sampai lewat begitu saja. Tegukan kopi pertama di pagi hari. Pesan dari teman lama. Cahaya sore yang jatuh di meja makan. Momen-momen itu membuat hari terasa lebih baik selama berlangsung, lalu hilang.

Jurnal syukur adalah tempat sederhana untuk menangkapnya. Dan ternyata kebiasaan kecil ini memberi lebih banyak dari yang kebanyakan orang kira.

Apa kata penelitian

Rasa syukur adalah salah satu kebiasaan yang paling banyak diteliti dalam psikologi positif. Dalam penelitian tahun 2003, psikolog Robert Emmons dan Michael McCullough meminta orang menulis jurnal singkat setiap minggu. Satu kelompok menuliskan hal-hal yang mereka syukuri; kelompok lain menulis tentang hal yang menyebalkan atau kejadian biasa. Setelah sepuluh minggu, kelompok yang menulis rasa syukur merasa lebih puas dengan hidupnya secara keseluruhan, lebih optimis menghadapi minggu berikutnya, lebih jarang mengeluhkan keluhan fisik, dan bahkan lebih sering berolahraga. (Emmons & McCullough, Journal of Personality and Social Psychology, 2003.)

Tidak ada yang diminta mengubah hidupnya. Mereka hanya mengubah apa yang mereka tuliskan.

Kamu jadi lebih peka pada hal baik

Efek terbesar dari kebiasaan bersyukur bukan di tulisannya. Efeknya justru terjadi di antara catatan-catatan itu.

Begitu kamu tahu nanti akan menuliskan satu momen baik, kamu mulai menyadari momen baik saat sedang terjadi. Kata-kata baik dari rekan kerja. Lagu yang diputar di radio. Teman yang ingat hari pentingmu. Perhatianmu pelan-pelan bergeser dari apa yang salah ke apa yang berjalan baik. Bukan dengan mengabaikan bagian hidup yang berat, tapi dengan memberi ruang yang adil untuk bagian yang baik.

Lebih terasa kalau dilakukan dengan santai

Ada satu temuan yang mengejutkan. Dalam penelitian lain, psikolog Sonja Lyubomirsky dan rekan-rekannya meminta orang menghitung hal yang mereka syukuri seminggu sekali atau tiga kali seminggu. Hanya kelompok seminggu sekali yang menjadi lebih bahagia secara nyata. Penjelasan para peneliti: kalau terlalu sering, bersyukur bisa mulai terasa seperti kewajiban dan kehilangan kesegarannya. (Lyubomirsky, Sheldon & Schkade, Review of General Psychology, 2005.)

Jadi, kebiasaan bersyukur tidak harus setiap hari untuk benar-benar berarti. Yang penting kebiasaan itu tetap bermakna, jadi sesuatu yang kamu nantikan, bukan sesuatu yang harus kamu centang.

Foto membuat bersyukur jadi lebih mudah

Tidak semua orang suka menulis. Foto bisa melakukan banyak hal untukmu. Foto masakan yang dibuatkan temanmu, pemandangan saat jalan sore, gambar anakmu yang ditempel di kulkas. Masing-masing adalah ucapan “terima kasih” kecil untuk hidupmu sendiri.

Tambahkan satu kalimat tentang kenapa momen itu berarti, dan kamu punya jurnal syukur yang bisa diisi kurang dari semenit, dan yang benar-benar menyenangkan untuk dilihat lagi saat harimu sedang berat.

Hari-hari baik juga layak disimpan

Kita sering baru menulis saat ada yang salah. Kebiasaan bersyukur menyeimbangkannya. Dari bulan ke bulan, kebiasaan ini membangun catatan tentang hal-hal baik dalam hidupmu, seperti orang-orang, tempat-tempat, dan kesenangan kecil, yang bisa kamu datangi lagi kapan pun kamu perlu diingatkan.

Mulai dengan satu momen minggu ini yang membuatmu senang. Simpan. Lalu lihat berapa banyak lagi yang mulai kamu sadari.