Kenapa menyimpan momen kecil membuat hidup terasa lebih penuh

· 2 menit baca · Juga dalam Deutsch, English

Sebagian besar hidup terdiri dari momen-momen kecil. Sarapan yang santai. Pulang jalan kaki di bawah gerimis. Obrolan yang ternyata lebih lama dari rencana. Tidak ada yang masuk berita, dan kebanyakan terlupa dalam seminggu. Tapi kalau dikumpulkan, momen-momen itulah yang membuat hidup terasa seperti hidup.

Menyimpan sebagian dari momen itu, cukup dengan satu foto dan beberapa kata, adalah kebiasaan sederhana. Dan kebiasaan ini memberi dua kali: sekali saat momennya terjadi, dan sekali lagi, jauh kemudian, saat kamu menemukannya.

Kamu lebih menikmati momennya

Banyak yang khawatir memotret membuat kita tidak benar-benar hadir di momen itu. Penelitian justru sering menunjukkan sebaliknya. Dalam serangkaian percobaan yang diterbitkan tahun 2016, Kristin Diehl, Gal Zauberman, dan Alixandra Barasch menemukan bahwa orang yang memotret saat menjalani pengalaman menyenangkan, seperti tur bus, makan bersama, atau berkunjung ke museum, biasanya lebih menikmatinya dibanding yang tidak memotret. Alasannya keterlibatan: memilih apa yang mau difoto membuat mereka melihat lebih saksama dan lebih memperhatikan apa yang ada di depan mata. (Diehl, Zauberman & Barasch, Journal of Personality and Social Psychology, 2016.)

Itulah kekuatan diam-diam dari menyimpan momen. Saat kamu tahu akan menyimpan sedikit dari hari ini, kamu mulai melihat hari ini dengan sedikit lebih saksama.

Momennya kembali padamu nanti

Hadiah kedua datang berbulan-bulan atau bertahun-tahun kemudian. Peneliti di Harvard Business School menemukan bahwa orang selalu meremehkan betapa senangnya mereka nanti saat menemukan kembali momen-momen biasa milik mereka sendiri, dan selisihnya paling besar justru pada momen yang paling sehari-hari. (Zhang dan rekan, Psychological Science, 2014.)

Foto jalan di depan kos lamamu. Satu kalimat tentang masakan di hari Minggu. Waktu itu terasa biasa saja. Nanti, hal-hal kecil itu membawa kembali satu musim hidupmu: orang-orang di sekitarmu, perasaanmu saat itu, dan dirimu yang dulu.

Kata-kata mengubah foto jadi kenangan

Galeri yang penuh foto tidak sama dengan jurnal. Foto menunjukkan apa yang ada di sana; kata-kata menyimpan kenapa itu berarti. “Makan malam” itu sekadar foto. “Makan malam bareng Ibu, pertama kalinya Ibu tertawa lagi sejak keluar dari rumah sakit” adalah kenangan yang ingin kamu simpan selamanya.

Beberapa kata sudah cukup. Kata-kata itu mengubah momen yang kamu lihat menjadi momen yang kamu jalani.

Kebiasaan yang membuat hari biasa jadi berarti

Menyimpan momen tidak memintamu mengubah hidup atau mencari sesuatu yang luar biasa untuk dicatat. Kebiasaan ini hanya memintamu memperhatikan hidup yang sudah kamu jalani.

Dari minggu ke minggu, bulan ke bulan, momen-momen kecil yang tersimpan itu menjadi sesuatu yang lebih besar: bukti bahwa hari-harimu penuh hal yang layak disimpan. Di malam yang tenang, melihatnya lagi terasa seperti diingatkan betapa banyak yang sudah kamu jalani.

Jadi, lain kali ada hal kecil yang membuatmu tersenyum, simpanlah. Satu foto, beberapa kata. Itu salah satu kebiasaan paling baik yang bisa kamu berikan untuk dirimu sendiri.